Bukan Termasuk Manfaat dari Internet: Format Pakai Tag HTML

Halo teman-teman pembaca yang budiman! Kita semua tahu bahwa internet telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam satu klik, kita bisa mencari informasi, terhubung dengan teman dan keluarga, atau bahkan bekerja jarak jauh. Tetapi di balik kemudahan ini, ada hal-hal yang tidak selalu terlihat atau sering kita abaikan saat menggunakan internet. Salah satunya adalah penggunaan tag HTML. Kita sering menggunakan format ini tanpa memahami efek dan potensi kelemahannya. Simaklah artikel ini untuk mengetahui bahaya ketika kita mengabaikan manfaat dari tag HTML.

Menambah Berat Badan

Internet memang memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia, namun di balik itu semua ada sejumlah dampak buruk yang bisa saja terjadi. Salah satu dampak buruk yang seringkali terjadi ketika seseorang terlalu berlebihan dalam mengakses internet adalah menambah berat badan secara drastis. Berikut ini beberapa faktor yang membuat internet dapat meningkatkan berat badan seseorang:

1. Terlalu banyak duduk dengan gadget

Hal yang paling mendasar adalah seseorang yang terlalu banyak duduk di depan layar gadget saat mengakses internet. Bila durasi duduk yang dilakukan terlalu lama dan jarang melakukan gerak badan, maka kalori yang masuk ke dalam tubuh akan semakin mengendap dan membentuk timbunan lemak. Terlebih lagi, banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka sedang makan terlalu banyak sebagai bentuk kebiasaan multitasking saat membuka gadget.

2. Berlebihan dalam mengonsumsi junk food

Terkadang ketika sedang bermain game atau bahkan bekerja di depan laptop, seseorang membutuhkan penghilang rasa lapar. Lalu apa yang biasanya jadi pilihan? Junk food! Roti isi, kentang goreng, keripik, atau minuman bersoda menjadi pilihan yang paling cepat dan mudah. Makanan jenis ini tidak sehat dan mengandung banyak lemak dan gula. Banyak yang tidak menyadari ternyata hanya dengan 1 bungkus keripik atau 1 botol minuman bersoda saja sudah mengandung kalori yang banyak sehingga akan memengaruhi berat badan seseorang dalam waktu yang tidak cepat pula.

3. Menyalahgunakan jasa pengiriman makanan

Terutama di masa pandemi, pengiriman makanan menjadi lebih mudah karena adanya jasa pengiriman yang telah melalui protokol kesehatan. Tidak sedikit orang yang “berdiam diri” di rumah dan mengonsumsi makanan yang dipesan dari restoran melalui jasa pengiriman. Sayangnya, makanan yang diolah di restoran umumnya memang bentuknya beragam dan tidak terlalu sehat seperti makanan di rumah sendiri. Salah satu faktor terjadinya peningkatan berat badan adalah makanan yang dimakan dari restoran umum menggunakan teknik pengolah makanan yang kurang pantas.

4. Terlalu banyak membeli gadget yang dipromosikan sebagai pelengkap olahraga

Di antara gadget dan aplikasi yang dijajakan di internet, ternyata saat ini juga banyak yang menawarkan gadget dan aplikasi yang dianggap sebagai pelengkap olahraga sekaligus terhubung dengan internet. Sayangnya, dalam pelaksanaannya, pengguna gadget tersebut malah terlihat lebih banyak duduk dan jarang sekali berolahraga sesuai anjuran klaim gadget kebiasaan sehari-hari. Padahal, kesehatan tidak bisa didapat dengan hanya dengan internet atau hanya dengan teknologi.

5. Terlalu tertarik dengan bentuk tubuh ideal selebritis di media sosial

Terakhir, faktor yang tidak kalah penting juga adalah sifat kurang percaya diri dan terlalu memikirkan bentuk tubuh ideal. Menilik berdasarkan media sosial, selalu ada kata kunci “tampil cantik di media sosial” atau “berat badan ideal ala selebritis”. Ada baiknya kita tidak mudah tergoda oleh promosi tersebut karena sejatinya, bentuk tubuh ideal tidak hanya bisa didapat dengan mudah. Harus ada proses dan olahraga yang benar, serta pola makan yang seimbang dan sehat.

Dalam kesimpulannya, memang benar adanya bahwa internet sebagai teknologi canggih tidak selamanya memberikan manfaat yang positif. Terlalu sering atau terlalu lama mengakses internet dengan rutinitas yang tidak benar dan kurang bisa memberikan keuntungan bagi kesehatan tubuh jangka panjang. Misalnya, peningkatan berat badan sekalipun hanya bisa dirasakan dalam waktu singkat, tidak baik bagi kesehatan tubuh di kemudian hari. Oleh karena itu, kita harus berusaha lebih moderasi dalam mengakses internet dan juga lebih memerhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita serta mengolah tubuh kita dengan tetap bergerak pantas dan sehat.

Menimbulkan Kecanduan

Internet menjadi salah satu sumber hiburan dan informasi yang mudah diakses di era modern seperti saat ini. Namun, seiring dengan keuntungan yang diberikan, internet juga dapat menimbulkan sebuah kecanduan yang serius. Kebanyakan orang, terutama remaja dan anak-anak, seringkali menghabiskan berjam-jam online untuk memenuhi hobi, memantau media sosial, dan bermain game online. Hal ini bisa memiliki dampak buruk pada aspek fisik, psikologis, dan sosial seseorang.

Salah satu contoh kecanduan internet adalah kecanduan game online. Kebanyakan anak-anak dan remaja sekarang lebih memilih memainkan game online daripada bermain outdoor. Karena sifatnya yang adiktif, mereka dapat menghabiskan berjam-jam setiap hari hanya untuk bermain game, bahkan mereka mungkin tidak makan atau minum selama beberapa jam. Padahal, ini dapat membahayakan kesehatan mereka.

Kecanduan internet juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan sajian dari dunia nyata. Sebagai contoh, pengguna mungkin lebih memilih menghabiskan waktu mereka melakukan aktivitas online daripada menghabiskan waktu dengan orang terdekat atau melakukan hobinya di luar rumah. Mereka juga mungkin tidak dapat melihat potensi dari diri mereka sendiri atau menemukan kebutuhan dalam pengembangan sosial dan keterampilan interpersonal.

Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur karena seseorang akan lebih memilih untuk tetap terjaga sampai larut malam untuk mengakses internet. Ini dapat mengacaukan waktu tidur yang seharusnya mereka miliki, dan menyebabkan kesulitan dalam bangun di pagi hari.

Beberapa orang juga dapat mengalami gejala seperti cemas atau marah ketika disuruh berhenti mengakses internet. Mereka mungkin merasa gugup dan tidak nyaman ketika terpisah dari perangkat internet mereka selama beberapa waktu. Ini disebabkan karena mereka telah menciptakan ketergantungan pada benda yang tidak dapat meningkatkan kesehatan mereka secara keseluruhan.

Kecanduan internet dapat menyebabkan adanya gangguan kesehatan mental dan fisik. Kebanyakan pengguna internet akan mengabaikan kesehatan mereka sendiri karena mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk dunia maya. Dampak yang terjadi dapat sangat merugikan bagi mereka, seperti obesitas, kurang tidur, dan gangguan kecemasan. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk terhindar dari kecanduan internet dan mengetahui batas waktunya dan prioritas.

Semasa pandemi, banyak yang menghabiskan waktunya untuk bekerja dari rumah atau belajar secara daring, yang menghasilkan dorongan dalam penggunaan internet. Melakukan pengaksesan internet dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang lama dapat mempengaruhi kesehatan kita dan merusak keseimbangan dalam kehidupan kita. Untuk mencegah hal ini terjadi, cobalah untuk mengatur penggunaan internet Anda dan berusaha untuk tidak menggunakan internet selama satu atau dua hari dalam seminggu.

Memicu Cyberbullying

Internet memiliki manfaat yang luar biasa, namun sayangnya internet juga memiliki dampak negatif pada kehidupan sosial. Salah satu dampak negatif dari penggunaan internet adalah meningkatnya kasus cyberbullying. Cyberbullying bisa terjadi pada setiap orang dari segala usia dan latar belakang, terutama pada anak-anak dan remaja yang lebih mudah dipengaruhi oleh internet.

Cyberbullying adalah tindakan penghinaan, intimidasi, atau penindasan yang dilakukan secara online oleh seseorang atau kelompok terhadap korban. Korban cyberbullying merasa dirugikan dan cenderung mengalami efek psikologis yang serius seperti stres, depresi, dan bahkan bunuh diri. Berikut ini adalah beberapa faktor yang memicu cyberbullying:

1. Anonimitas

Anonimitas merupakan hal yang umum dalam penggunaan internet. Di internet, seseorang dapat menyembunyikan identitas diri dengan mudah. Anonimitas ini menjadi faktor penting dalam memicu cyberbullying karena pelaku dapat melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab tanpa takut dihukum. Mereka merasa aman karena tidak ada yang tahu siapa pelakunya.

Seringkali pelaku cyberbullying merasa poweful (berkuasa) karena merasa tidak terlihat seperti pada kasus bullying di dunia nyata. Hal ini memicu pelaku untuk melakukan bullying secara lebih brutal karena merasa bebas melakukan apapun tanpa takut dihukum.

2. Keserempatan dan kemudahan untuk melakukan bullying

Dalam penggunaan internet, seseorang dapat melakukan bullying dengan sangat mudah dan cepat. Pelaku cukup mengetikkan kata-kata yang menyinggung atau merendahkan korban dan menekan enter. Tindakan ini sangat mudah dilakukan dan memungkinkan pelaku untuk melakukan bullying secara terus-menerus tanpa henti dan tanpa terlihat oleh orang lain. Hal ini membuat korban merasa semakin terpojok dan frustasi.

Selain itu, pelaku cyberbullying juga dapat menggunakan berbagai platform media sosial dan sistem pesan instan yang ada di internet. Platform ini memberikan bonus bagi pelaku untuk mengambil adegan dan mengunggah foto, rekaman audio maupun video yang dapat merendahkan korban.

3. Perasaan disengaja mengganggu

Banyak pelaku cyberbullying merasa senang merugikan orang lain, merasa kuat ketika menindas korban, dan menganggap efek yang mereka berikan hanyalah lawakan ringan. Pelaku ini merencanakan tindakan mengganggu korban demi mencapai kedudukan yang lebih tinggi dalam kelompok mereka atau menurunkan rasa percaya diri korban yang membuat mereka lebih lemah dalam kelompok itu.

Perasaan untuk mengganggu ini muncul dikarenakan popularitas di internet merupakan sebuah faktor penting. Popularitas di internet dapat ditentukan dari banyaknya pengikut, like dan share. Pelaku ingin membuat korban terlihat buruk di depan publik dan mendapatkan efek mengerikan dari hal tersebut.

4. Pengaruh Grup

Sebagian besar kasus cyberbullying dikarenakan pengaruh grup. Grup dapat menjadi pelaku dalam melakukan bullying di internet akan tetapi terdiri dari beberapa orang yang sama-sama mencetuskan ide mengganggu atau melakukan aksi mengganggu secara bersamaan. Dalam kasus ini, seseorang tidak merasa memiliki peran tunggal dalam tindakan bullying. Masyarakat di era digital saat ini terkadang sering salah dalam menganggap hal ini sebagai lawakan yang menyenangkan tanpa melihat efek psikologis dari tindakan mereka tersebut kepada orang lain.

Sebuah studi tentang cyberbullying menunjukkan bahwa orang-orang yang terlibat dalam tindakan bullying lebih cenderung mengikuti pengaruh dari kelompoknya daripada menerima saran atau pendapat dari orang luar. Hal ini karena adanya rasa besar tepat jika melakukan penghinaan secara bersamaan.

Kesimpulannya, cyberbullying tidak bisa dipandang remeh dan harus segera ditangani. Ada banyak manfaat dari penggunaan internet, namun kita harus ingat bahwa internet juga memiliki dampak negatif. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui faktor-faktor yang memicu cyberbullying agar kita dapat mengambil tindakan pencegahan yang tepat dan menghindari terjadinya kasus cyberbullying di masa depan.

Menyebarkan Konten Negatif

Internet memberi kita kemudahan untuk bertukar informasi secara cepat dan mudah. Hal ini tentu saja membawa dampak positif, seperti lebih mudahnya berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman yang jauh, serta lebih banyaknya kesempatan untuk memperoleh informasi. Namun, di sisi lain, internet juga memberikan dilema tersendiri. Salah satunya adalah kemudahan untuk menyebarkan konten negatif yang bisa berdampak buruk bagi masyarakat.

Menyebarkan konten negatif di internet dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Bahkan, ada kemungkinan bahwa konten-konten tersebut bisa disebarkan secara tak terbatas dan sulit dikontrol. Berikut ini adalah beberapa dampak negatif dari konten negatif di internet:

1. Menimbulkan Kecemasan dan Kekhawatiran yang Berlebihan

Konten negatif yang sering disebarluaskan di internet bisa menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan. Terkadang, konten tersebut menampilkan berita hoax atau menyebarkan informasi palsu yang bisa membuat orang-orang panik dan merasa takut. Hal ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental masyarakat, karena menimbulkan tekanan dan ketakutan yang tidak perlu.

2. Memperburuk Citra Negara dan Bangsa

Konten negatif yang disebarkan di internet tidak hanya membahayakan kesehatan mental masyarakat, tetapi juga bisa memperburuk citra negara dan bangsa. Misalnya saja berita hoax atau informasi palsu yang menyudutkan pejabat publik atau pimpinan negara. Hal ini bisa memicu rasa tidak percaya dan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

3. Menimbulkan Konflik Antar Individu atau Kelompok

Konten negatif yang sering tersebar di internet bisa menimbulkan konflik antar individu atau kelompok. Misalnya saja terdapat sebuah grup Facebook yang berisi informasi atau komentar negatif tentang orang atau kelompok tertentu. Hal ini bisa berujung pada konflik verbal atau fisik yang dapat merugikan masyarakat secara langsung.

4. Meningkatkan Penerimaan Terhadap Tindakan Kekerasan dan Kriminalitas

Konten negatif di internet tidak hanya mengancam masyarakat secara mental dan sosial, tetapi juga berdampak pada tingkat kejahatan di masyarakat. Konten-konten tersebut kerap kali menampilkan tindakan kekerasan atau kriminalitas yang mudah ditiru oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini bisa meningkatkan penerimaan terhadap tindakan kekerasan dan kriminalitas di masyarakat.

Untuk menghindari dampak negatif dari konten negatif di internet, dibutuhkan kesadaran dan peran aktif masyarakat. Masyarakat harus lebih selektif dalam mengonsumsi informasi dan mengecek kebenarannya terlebih dahulu sebelum menyebarkannya ke orang lain. Selain itu, pemerintah juga harus menerapkan regulasi yang ketat untuk menghindari penyebaran konten negatif di internet.

Menimbulkan Gangguan Kesehatan Mata

Internet menjadi salah satu teman setia manusia dalam melakukan segala aktivitas mereka di tengah pandemi ini. Entah untuk belajar, bekerja, bermain game, berkomunikasi dengan teman maupun keluarga, sampai dengan memesan barang kebutuhan sehari-hari. Namun, siapa yang menyangka bahwa ternyata penggunaan internet yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada mata?

Jika kita biasa menghabiskan waktu dengan menatap layar gadget atau komputer selama berjam-jam tanpa ada istirahat, hal ini dapat memicu gangguan mata yang bernama Computer Vision Syndrome (CVS) atau Sindrom Mata Komputer. Biasanya, gejala gangguan CVS antara lain mata merah, lelah, perih, kering, berkunang-kunang atau kabur, sakit kepala, hingga timbul sensasi baru seperti silau dan rasa perih di mata.

Salah satu penyebab terjadinya gangguan mata tersebut adalah cahaya biru yang dipancarkan oleh layar gadget. Cairan mata kita sebenarnya berfungsi untuk memfilter cahaya yang masuk ke dalamnya, namun sinar cahaya biru ini mampu menembus cairan tersebut dengan begitu mudahnya. Akibatnya, mata menjadi mudah lelah dan terasa kering karena kurangnya produksi air mata.

Namun, jangan khawatir, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya gangguan mata akibat penggunaan internet yang berlebihan. Pertama, pastikan posisi mata dan monitor komputer berada pada jarak yang tepat yaitu sekitar 50-70 sentimeter. Kemudian, atur posisi monitor dengan sudut pandang yang sesuai agar tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Selanjutnya, kita bisa menggunakan aplikasi penurun cahaya biru atau Blue Light Filter, yang dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan mata. Selain itu, jangan lupa untuk mengatur jeda waktu dalam menggunakan gadget setiap 20 menit dengan istirahat selama 20 detik dan melihat pemandangan yang jauh. Caranya dengan melihat keluar jendela atau lingkungan sekitar. Hal ini dapat membantu mata kita untuk beristirahat sejenak dan mengurangi kelelahan.

Selain itu, pastikan kita selalu memperhatikan kebersihan layar gadget dan lingkungan sekitar. Mengapa begitu? Karena layar yang kotor atau lingkungan yang berdebu dapat memicu iritasi dan alergi pada mata, sehingga dapat memperburuk kondisi mata yang sudah lelah akibat penggunaan gadget terlalu lama.

Terkadang, ada beberapa orang yang menggunakan kacamata pembesar ketika mereka bekerja atau belajar menggunakan komputer. Nah, jika kamu juga salah satu dari mereka, pastikan kacamata tersebut sudah diatur dengan ukuran yang pas, sehingga mata tidak perlu banyak menyesuaikan fokus pandang dan otot mata tidak lelah akibat bekerja terlalu keras.

Jangan lupa, konsumsi makanan yang kaya zat gizi untuk kesehatan mata seperti sayuran hijau, ikan, dan buah-buahan berwarna cerah seperti jeruk dan kiwi. Semua makanan tersebut kaya akan vitamin A dan antioksidan, yang dapat meningkatkan kesehatan dan daya tahan mata kita.

Sebagai penutup, penting bagi kita untuk memperhatikan dan merawat kesehatan mata dengan baik. Selalu perhatikan kenyamanan mata ketika bekerja dengan internet, dan jangan remehkan gejala yang terjadi pada mata seperti rasa perih dan lelah. Cegah terjadinya gangguan mata sejak dini, agar kita dapat terus nyaman dan produktif dalam menggunakan internet.

Terima kasih sudah membaca artikel ini. Semoga artikel ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran kita mengenai penggunaan tag HTML dalam format tulisan di internet. Meskipun tidak termasuk manfaat dari internet secara keseluruhan, pemahaman akan format tulisan yang benar dapat meningkatkan penampilan dan kredibilitas sebuah situs atau blog. Semoga kita semua dapat menjadi pengguna internet yang cerdas dan bertanggung jawab. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!